Ada sebuah cerita yang hidup di Desa Nggela secara turun temurun, kampung adat ini berasal dari empat orang saudara kandung yang merupakan nenek moyang asli suku Lio yang hidup nomaden dan suatu hari berlabuh di Wewaria, pantai utara Ende, Flores. Nenek moyang ini terdiri dari tiga orang pemuda bernama Nogo, Tori, Nira, dan seorang perempuan bungsu yang bernama Nggela. Mereka kemudian membangun empat buah rumah pertama di Desa Nggela dan menamainya dengan Sao Rore Api, Sao Labo, Sao Wewa Mesa, Sao Ria, dan Sao Mekko. Masing-masing dari rumah ini memiliki fungsi. Sao Rore Api (rumah kakak tertua Nogo) berfungsi sebagai penyedia api yang digunakan untuk memasak pada seremonial adat misalnya acara Jaka Uwi. Api yang dihasilkan berasal dari dua bilah bambu yang digesek. Konon hanya orang-orang yang merupakan keturunan Nogo saja yang bisa menggesekkan dua bilah bambu tersebut. Rumah kedua Sao Labo adalah rumah milik sang adik Tori, yang merupakan rumah Ata Laki Ine Puu. Rumah ini berfungsi sebagai tempat konsultasi apabila terjadi masalah di seluruh wilayah adat Nggela. Rumah yang berikutnya adalah Sao Wewa Mesa yang merupakan rumah milik Nira. Rumah ini berfungsi sebagai pelindung kampung kalau-kalau ada musuh yang menyerang Nggela dari wilayah laut. Rumah keempat adalah Sao Ria, inilah rumah milik si bungsu Nggela. Sao Ria adalah rumah pelaksana dan pengurus seremonial adat di Kampung Adat Nggela seperti Tau Nggua, Loka Lolo, dan lainya. Yang terakhir adalah Sao Mekko yang berfungsi sebagai penjaga dan pemelihara kanga. Kanga adalah tempat diadakannya upacara atau seremonial adat. Rumah adat ini tetap dijaga dan menjadi objek wisata budaya di Kabupaten Ende.
 |
| Pra Kejadian |
Namun pada hari Senin, 29 Oktober 2018 Kampung adat Nua Nggela Kec. Wolojita Kab Ende dilalap si jago merah. Total 22 rumah adat, 10 rumah warga dan 1 balai pertemuan. Seperti diketahui bersama didalam rumah adat tersimpan peninggalan-peningalan leluhur yang juga ikut terbakar dan hanya menyisakan abu. Total kepala keluarga yang terkena bencana sebanyak 27 KK dengan rincian laki-laki dewasa sebanyak 27 orang, perempuan dewasa sebanyak 32 orang dan anak-anak sebanyak 10 orang.
 |
| Laporan Relawan Peduli Nggela |
Flores kembali berduka setelah sebelumnya
kampung adat Gurisina di Bajawa mengalami hal yang sama, penyebab kebakaran masih diidentifikasi oleh aparat kepolisian, dugaan sementara karena hubungan singkat arus listrik.
 |
| Pasca Kebakaran |
Melihat kejadian itu, maka generasi muda yang peduli mengagas untuk aksi sosial penggalangan dana bantuan sebagai bentuk kepedulian kepada objek budaya dan membantu meringankan duka saudara-saudara kita yang ada disana.
Untuk donatur yang berkenan memberikan donasi, silahkan lewat rekening:
BRI: 0024-01-004408-53-3 an. Organisasi Anak Cinta Lingkungan Ende
atau
BCA 458-0330-938 an. Nuryah Syibli
Harap mencantumkan angka 2 pada nominal yang ditransfer contoh Rp 1.000.002 & kirim bukti transfer ke nomor WA 0812 3981 9916
Bantuan barang ke alamat:
POSKO PEDULI NGGELA
Jl. Adi Sucipto RT 008/RW 002 Kelurahan Tetandara Kecamatan Ende Selatan
Kab Ende NTT. 86316
Kontak Informasi:
Orrys Kakandate 0852 1617 3084
Oscar Della 0821 4754 1997
Ismail H. 082 24701 7203
David Mossar 0822 4744 6088
Kami yang menggalang:
Rumah Baca Akar
ACIL Ende
RMC Detusoko
MSI Basecare & KOM.Ende
Taman Baca Anak Merdeka
Ende Berbagi
Komunitas Sare
Mapala Flopala
GP Ansor Ende
Relawan Bung Karno Ende
Arsitektur UNIFLOR Ende
Grafitty Ende
Buku Bagi NTT Regio Ende
Indipendent Ende
#kitainisama
#PeduliNggela
#KampungAdat
#KampungAdatNggela
#BangunKembaliNggela
#KampungAdatIndonesia